Rabu, 06 Februari 2013

Sejarah Desa Cikijing


RIWAYAT SINGKAT BERDIRINYA DESA CIKIJING
Sejarah berdirinya Desa Cikijing berawal pada abad ke – 17 Masehi. Pada mulanya merupakan sebuah hutan kecil yang dilingkari rawa-rawa yang membentang dari sebelah Barat ke Selatan sampai ke sebelah Timur Desa Cikijing, rawa-rawa tersebut merupakan tempat populasi kerang, dalam bahasa Sunda disebut ( Kijing ).
Wilayah tersebut merupakan daerah kekuasaan kerajaan kecil yaitu kerajaan Talaga Manggung bawaan kerajaan Galuh. Pada waktu itu kerajaan Galuh merupakan bawahan kerajaan Padjajaran yang menganut  agama Hindu.
Pada Tahun 1497 M, Syekh Syarif Hidayatullah memproklamirkan berdirinya kerajaan Islam di Jawa Barat tepatnya Kesultanan Cirebon yang  terpisah dari kerajaan Padjajaran.
Sejak itulah Syarif Hidayatullah sangat sibuk menyebarkan agama Islam di Jawa Barat karena sangat sibuknya beliau, maka sebuah kerajaan kecil yang ada di wilayah Talaga menjadi terlupakan dan belum di sentuh oleh beliau sehingga kerajaan Talaga Manggung pada waktu itu masih beragama Hindu.
Pada tahun 1568, Syekh Syarif Hidayatullah wafat dan di makamkan di Astana Gunung Jati Cirebon. Sekitar tahun 1632 Sedang Kamuning yang bergelar (Dipati Carbon I) melanjutkan penyebaraan Islam sampai dengan sekitar tahun 1693, lalu di gantikan oleh Emas Zainul Arifin yang bergelar (Ratu Pakungwati I) memerintah sampai dengan sekitar tahun 1743.
Pada sekitar tahun 1744 Sedang Gayam yang bergelar (Dipati Carbon II) berkuasa, lalu beliau memerintahkan pada abdinya untuk menyebarkan Islam ke sebuah kerajaan kecil yang ada di wilayah Talaga tepatnya didaerah Sangiang, pada waktu itu rajanya masih beragama Hindu.
Pasukan utusan Dipati Carbon II tersebut berangkat ke Talaga untuk  mengislamkan wilayah Talaga dan sekitarnya. Singkat cerita utusan Dipati Carbon II ini tidak berhasil mengislamkan Raja dan Prajurit Kerajaan Talaga karena konon katanya Raja Talaga Manggung menghilang dalam bahasa sundanya (Leungit/Ngahiang) dan kerajaan tersebut amblas ke dalam tanah lalu menjadi sebuah Telaga dalam bahasa Sunda disebut (Situ) yang sekarang terkenal dengan sebutan (Situ Sangiang). Sementara para prajuritnya tenggelam dalam situ tersebut dan berubah menjadi ikan lele putih.
Setelah itu para utusan Dipati Carbon II berniat kembali ke Cirebon, dalam perjalanan pulang tersebut melewati sebuah hutan kecil yang dilingkari rawa-rawa yang banyak dihuni oleh Kerang Putih dalam bahasa sundanya di sebut (Kijing). Kemudian salah seorang dari mereka yaitu K.H Abdul Fatah yang bergelar (Eyang Nalagati), memutuskan untuk bermukim di daerah ini. Sejak itulah K.H Abdul Fatah bermukim dan memberi nama dengan sebutan “CIKIJING”. Nama ini diambil dari kerang yang hidup di air rawa, dalam bahasa sunda air disebut (cai) kerang disebut (Kijing). Maka disebutlah nama Cikijing artinya kerang yang hidup di air rawa, selanjutnya kerang (Kijing) dijadikan lambang Desa Cikijing.
Pada mulanya pemukiman penduduk dimulai di sebelah Selatan bagian Timur. Sekarang menjadi Blok Ahad. Disana didirikan sebuah masjid yang disebut masjid Kuno.  Sekarang (Masjid AT-TAQWA). Disebut kuno karena merupakan masjid yang pertama dibangun di Desa Cikijing dengan konstruksi dari kayu. Namun sayang, masjid tersebut telah di pugar dengan disesuaikan dengan perkembangan zaman dengan konstruksi batu bata sehingga hilanglah bentuk aslinya dan tidak lagi bernilai sejarah.
Demikian riwayat singkat berdirinya Desa Cikijing yang berdirinya sekitar tahun 1744.

4 komentar:

  1. Kabarnya pada masa revolusi pernah dipakai uang darurat Cikijing.Mungkin orang tau jaman itu menetahuinya

    BalasHapus
  2. Makasih artikelnya bermanfaat bagiku yg sedang mengkonsep sesuatu di Cikijing.

    BalasHapus
  3. Makasih artikelnya bermanfaat bagiku yg sedang mengkonsep sesuatu di Cikijing.

    BalasHapus
  4. makasih banget ini sejarah buat orang orang yang bertepatan di kec.cikijing

    BalasHapus